Hakikat dari dialog adalah sebuah kata. Kata adalah sebuah alat yang memungkinkan dialog dilakukan. Untuk itu kita harus mencari unsur-unsur pembentuknya yaitu refleksi dan tindakan (aksi). Tanpa refleksi hanya akan terjadi aktivisme dan tanpa aksi hanya terjadi verbalisme. Artinya bila sebuah kata dihilangkan dimensi tindakannya, dengan sendirinya refleksi dirugikan dan kata itu berubah menjadi omong kosong, hanya verbalisme menjadi bualan yang asing dan mengasingkan.
Jika tindakan ditekankan secara berlebihan dengan merugikan refleksi, kata berubah menjadi aktivisme.

Keberadaan manusia tidak mungkin tanpa kata juga tidak pula diciptakan dalam kebisuan, tetapi dalam kata, dalam karya, dalam tindakan dan refleksi. Maka dari itu mengucapkan kata bukanlah hak istimewa sebagian orang, tetapi hak setiap orang. Dengan demikian tidak seorangpun dapat mengucapkan sebuah kata yang benar seorang diri, juga tidak dapat mengatakannya untuk orang lain (dalam nada perintah yang merampas hak orang lain).


Dialog adalah pertemuan dengan manusia melalui kata. Dialog tidak mungkin timbul di antara manusia yang menyangkal hak untuk berbicara dan yang merampas haknya untuk ber-"kata". Mereka yang telah ditolak haknya utnuk mengatakan kata-katanya sendiri harus terlebih dahulu merebut hak itu kembali dan mencegah terus berlangsungnya perbuatan dehumanisasi itu. Oleh karena itu dialog tidak dapat disederhanakan sebagai tindakan seseorang "menabungkan " gagasannya kepada orang lain atau sebagai sebuah pertukaran gagasan untuk dikonsumsi oleh para peserta sebuah diskusi.
Dialog tidak dapat berlangsung, bagaimanapun, tanpa didasari oleh :
  • Adanya kepercayaan yang besar
    Bahwa manusia pada hakikatnya dipanggil untuk menjadi subyek yang harus mengerjakan dan mengubah dunia
  • Bersandar pada cinta kasih
    Rasa cinta yang mendalam terhadap dunia dan manusia. Cinta menjadi dasar dialog yang nantinya akan menumbuhkan sifat bertanggung jawab dan menghilangkan sifat dominasi
  • Adanya kerendahan hati
    Dengan kerendahan hati tidak ada lagi sikap memandang bodoh orang lain dan lupa mawas diri akan kelemahan diri sendiri, sikap merasa yang memiliki kebenaran dan pengetahuan
  • Adanya keyakinan yang mendalam
    Keyakinan pada fitrahnya untuk menjadi manusia seutuhnya (bukan hak istimewa sekelompok elit)
  • Adanya harapan
    Sebuah perjumpaan dialog akan menjadi sesuatu yang kosong, hampa, dan menjemukan tanpa adanya sebuah harapan dari hasil dialog itu sendiri
  • Menuntut sikap mau mendengar, memahami diri sendiri dan memiliki sense of humour
Semoga dengan dialogika ini kita semua dapat memahami, mau menginstrospeksi diri, mau merubah diri menjadi manusia yang lebih baik lagi dan juga menjadikan hasil dari setiap kajian ini menjadi sebuah pembelajaran tentang arti dari sebuah kehidupan.

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih atas kunjungan dan komentarnya pada Blog ini. Thanks atas setiap Komentar, Masukkan, Saran, dan Kritik Y dapat membangun blog ini agar lebih baik lagi kedepannya. Berkomentarlah sesuai dengan Isi Bahasan Artikel. Mohon dengan Sangat Kepada Sobat-sobat untuk tidak berkomentar Y berbau unsur:
- Sara
- Pornografi
- No Spam !!! [Komentar menyertakan link aktif akan otomatis terdelete]
Terima Kasih atas Kunjungannya Sobat,,
Salam Sukses dari AF Sahabat Artikel

 
Top