PROBLEMATIKA PENDIDIKAN
Problematika adalah berasal dari akar kata bahasa inggris “problem” artinya, soal, masalah, atau teka- teki. Juga berarti problematic, yaitu ketidaktentuan.
Tentang pendidikan banyak definisi yang berbagai macam, namun secara umum ada yang mendifinisikan bahwa pendidikan adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pendangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang emmberikan pengertian, pandangan danpenyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Definisi pendidikan secara lebih khusus sebagaiman dikemukakan oleh Ali Saifullah, bahwa pendidikanialah suatu proses pertumuhan di dalam mana seorang invidu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat disimpulakan disini bahwa pendidikan adalah suatu usaha
sadar dlam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek keterampilan) yang didmiliki oleh seorang individu.
Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidkan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang di hadapi oleh dunia pendidikan. Persoalan-persoalan pendidikan tersebut menurut Burlian Somad secara garis besar meliputi hal sebagai berikut : adanya ketidak jelasan tujuan pendidikan, ketidak serasian kurikulum, ketiadaan tenaga pendidik yang tepat dan cakap, adanya pengukuran yang salah ukur serta terjadi kekaburan terhadap landasan tingkat-tingkat pendidikan.
KETIDAK JELASAN TUJUAN PENDIDIKAN
Dalam undang-undang nomor 4 tahun 1950, telah disebuutkan secara jelas tentang tujuan pendidikan dan pengajaran yang pada intinya ialah untuk membentuk manusia ssusila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air berdasarkan pancasila dan kebudayaan kebangsaan Indonesia dan seterusnya. Namun dalam kenyataan yang terjadi terhadap tujuan pendidikan yang begitu ideal tersebut belum mampu menghasilkan manusia-manusia sebagaimana yang dimaksud dalam tumpukan kata-kata dalam rumusan tujuan pendidikan yang ada, bahkan terjadi sebaliknya, yakni terjadi kemerosotan moral, kehidupan yang kurang demoratis, terjadi kekacauan akibat konflik di masyarakatdan lain-lain. Hal ini merupakan suatu indikasi bahwa tujuan pendidikan selama ini belum dikatakan berhasil, mungkin disebabkan adanya ketidak jelasan atau kekaburan dalam memahami tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Kebanyakan kurikulum yang dipergunakan di sekolah-sekolah masih berisi tentang mata pelajaran yang beraneka ragam. Sejumlah jam-jam pelajaran dan nama-nama buku pegangan untuk setiap mata pelajaran.
Sehingga pelajaran yang berlangsung kebanyakan menanamkan teori-teori pengetahuan melulu, akibatnya para lulusan yang dihasilkan kurang siap pakai bahkan miskin keterampilan dan tidak mempunyai kemampuan untuk berproduktifitas di tengah-tengah masyarakatnya, karena muatan kurikulum yang diterima disekolah-sekolah memang tidak di persiapkan untuk menjadikan lulusan dari peserta didik untuk dapat mandiri di masyarakatnya.
KETIADAAN TENAGA PENDIDIK YANG TEPAT DAN CAKAP
Masih banyak dijumpainya suatu slogan yang berbunyi “tak ada rotan maka akarpun jadi” , menunjukkan suatu gambaran betapa rendahnya kualitas tenaga kependidkan yang ada, karena harus dipegang oleh tenaga-tenaga pendidikan yang bukan dari ahlinya. Pada hal menegaskan dan mendudukkan seseorang sebagai pendidik yang tidak dibina atau dibekalinya ilmu kependidikan dan yang bukan dalam bidangnya, sangatlah menimbulkan kerugian yang sangat besar, diantaranya terjadinya pemborosan biaya, terjadinya pemerosotan mutu hasil pendidikan, lebih jauh lagi akan mempersiapkan warga masyarakat dimasa mendatang dengan pribadi-pribadi yang memiliki kualitas rendah sehingga tak mampu bersaing dalam kehidupan yang serba problematis.
ADANYA PENGUKURAN YANG SALAH UKUR
Dalam masalah pengukuran terhadap hasil belajar yang sering disebut dengan istilah ujian atau evaluasi. Ternyata dalam prakteknya terjadi ketidakserasian antara angka-angaka yang diberikan kepada anak didik sering tidak objektif, dimana pencantuman angka-angka nilai yang begitu tinggi sama sekali tidak sepadan dengan mutu real pemegang angka-angka niai itu. Ketika mereka diterjunkan ke masyrakat, tidak mampu berbuat apa-apa yang setaraf dengan ingkat pendidikannya. Jelasnya tanpa adanya pengukuran yang obyektif dapat diapstikan tidak akan pernah terwujud tujuan pendidikan yang sebenarnya.
ADANYA KEKABURAN LANDASAN TINGKAT-TINGKAT PENDIDIKAN
Selama bertahun-tahun nampaknya tidak ada yang meninjau kembali tentang perjenjangan tingkat pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga ketingkat perguruan tinggi. Apakah hasil perjenjangan selama ini didasarkan atas tingkat perkembangan fisik dan psikis anka didik ataukah sekedar terjemahan saja dari tingkat-tingkat pendidikan yang dipakai umum diseluruh dunia, kalau itu masalahnya, kondisi anak didik kita jelas jauh berbeda dengan kondisi negara-negara lain didunia, sehingga mustahil apabila harus diadakan persamaan. Ataukah didasarkan atas hasil penelitian empiris, apakah benar bahwa untuk mejadi seorang yang bercorak diri bernilai tinggi itu cukup memerlukan pembinaan selama masa waktu 17-24 tahun. Inilah permasalahn-permasalahan disekitar pendidikan kita yang selama ini belum diketemukan jawabanya.
SOLUSI PEMECAHAN TERHADAP PROBLEMATIKA PENDIDIKAN
Dalam menghadapi masalah ketidak jelasan tujuan pendidikan selama ini, perlu segera dirumuskan secara jelas variabel-variabel yang harus dicapai untuk masing-masing jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dalam arti penerapan hasil secara realistis yang dapat dirasakan dampaknya ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak dalam wacana pencapaian tujuan secara idealistis.
Untuk mengatasi ketidakserasian kurikulum, perlu dihilangkan kesan adanya pengidentikan sekolah hanyalah menanamkan teori-teori ilmu melulu, perlu menghilangkan kesan bahwa pendidikan itu identik dengan pengajaran, perlu meminimalisir kekeliruan langkah dalam pembuatan kurikulum yang kurang berorientasi terhadap kondisi real pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Demikian pula dalam mengatasi ketiadaan tenaga pendidik yang berkualitas dan yang profesional, perlu merekrut sebanyak-banyaknya tenaga dari lulusan lembaga pendidikan dengan keharusan memiliki kecakapan menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan bagi pembuatan standar kualitas minimal, tenaga yang menguasai imlu-ilmu yang diperlukan untuk melaksanakan manajemen pendidikan yang dapat membawa perubahan kearah yang lebih maju.
Syarat lainnya yang harus ada pada diri pendidik minimal, memiliki kedewasaan berpikir, kewibawaan, kekuatan kepribadian, memiliki kedudukan sosial-ekonomi yang cukup, kekompakan sesama pendidik dalam satu team. Dan lain sebagainya.
Pengukuran dalam bidang pendidikan sangat menentukan berkualitas atau tidaknya individu peserta didik, hal itu tergantung bagaimana alat ukur yang dipergunakan. Dalam kenyataannnya masih banyak alat ukur yang dibuat secara sembarangan tanpa melalui proses standardisasi, sehingga alat ukur tersebut tidak bisa diandalkan, karena tidak valid dan tidak reliabel. Oleh sebab itu perlu membuat alat ukur yang valid dan reliabel, disertai dengan pemberian nilai-nilai angka seobyektif mungkin tanpa terpengaruh oleh subyektifitas dan rekayasa, hanya dengan cara pengukuran seperti inilah yang dapat menjamin mutu hasil pendidikan yang diharapkan.
Pada akhirnya, untuk mencari solusi terhadap penjengjangan pendidikan, haruslah didasarkan pada apa saja yang harus di bentukan pada anak didik, perlu melakukan perhitungan secara seksama dengan melakukan exsperimen yang matang untuk menemukan fakta-fakta kebenaran baru dalam rangka meninjau kembali penjenjangan tingkat pendidikan yang selama ini dipedomani.
KESIMPULAN
Dari sekian banyak uraian yang telah penulis tuangkan melalui isi makalah ini, dapatlah penulis simpulkan, hal-hal sebagai berikut : sesungguhnya problematika pendidikan yang ada sekarang ini lebih terletak pada ketidak jelasan tujuan yang hendak dicapai, ketidak serasian kurikulum terhadap kebutuhan masyarakat, kurangnya tenaga pendidik yang berkualitas dan profesional, terjadinya salah pengukuran terhadap hasil pendidikan serta masih belum jelasnya landasan yang dipergunakan untuk menetapkan jenjang-jenjang tingkat pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga keperguruan tinggi.
Solusi yang penulis tawarkan dalam mencari pemecahan masalah, adalah perlunya meninjau dan meruskan kembali secara realistis terhadap problematika yang sedang dihadapi oleh dunia pendidikan kita selama ini.
4.5

1 komentar:

Terima Kasih atas kunjungan dan komentarnya pada Blog ini. Thanks atas setiap Komentar, Masukkan, Saran, dan Kritik Y dapat membangun blog ini agar lebih baik lagi kedepannya. Berkomentarlah sesuai dengan Isi Bahasan Artikel. Mohon dengan Sangat Kepada Sobat-sobat untuk tidak berkomentar Y berbau unsur:
- Sara
- Pornografi
- No Spam !!! [Komentar menyertakan link aktif akan otomatis terdelete]
Terima Kasih atas Kunjungannya Sobat,,
Salam Sukses dari AF Sahabat Artikel

 
Top